Tentang Rindu

TENTANG RINDU

Oris Banase

 


Sore ini cuaca seolah tak bersahabat. Suara-suara bising sangat mengganggu keheninganku dikamar ini. Aku ditemani segelas kopi hitam namun rasanya manis. Hatiku mulai gelisah memikirkan dia yang pergi dari kehidupanku. Ya, dia pergi bukan untk selamanya. Dia akan kembali. Tetapi hati ini tidak bisa berbohong. Aku merindukan dia.
Aku seolah tersesat dalam alam rinduku yang menjerat. Betapa hati ini telah terpikat dalam pesonanya yang memikat, membiusku dengan tutur lembut suara dalam tiap sapa, menghipnotisku akan cantik paras wajahnya. Ah, aku sangat merindukan dia. Rindu adalah keluhan paling dalam di dalam percintaan.

Aku berjuang melawan rasa rindu ini, menahan sepi dihati. Aku mulai merangkai carik-carik rasa rindu ini. Rindu yang selalu menghantuiku. Bayangan dia  yang menyapa dalam tiap tarian tulisan ini. Membuaiku dalam indah yang sesaat, yang akan hilang saat kuhapus semuanya.

Aku sadar bahwa sesudah kepergiannya, aku akan mengeluh tentang jarak dan chatting adalah jawaban yang sempurna. Hanya inilah yang akan kami lakukan daloam jarak dan waktu. Sejak saat itu, aku mulai merapikan carik-carik rindu.

“Hallo, sayang kapankah engkau akan kembali untuk menemaniku dalam ziarah cinta kita?” aku berusaha chat dia lewat WA.

“Sabar sayang. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku pasti pulang” balasnya dengan mantap.

“Aku rindu kamu” kataku singkat.

Ada hati yang menunggumu pulang, ada hati yang menunggumu kembali, ada hati yang kosong sejak kamu pergi. Sepi terasa saat kau tak di sini, hanya suara kalbu dan irama lagu yg mengiringi setiap alunan lagu itu mengingatkanku tentangmu.  Hari-hariku kini dipenuhi banyak hal.  Semuanya mengarah padamu, tak kuat rasanya memendam rasa ini terlalu lama. Inginku meluapkan semua isi kalbuku. Kini ku harus sabar menunggu. Aku hanya seorang diri dan ini sangat menyakitkan.

Bila rindu ini masih milikmu, kuhadirkan sebuah tanya untukmu, harus berapa lama aku menunggumu, sayang?” tanyaku, menirukan lirik lagu Ariel NOAH.

“Aku pasti pulang, sayang. Kamu harus bersabar. Tanggal 14, aku akan kembali” jawabnya singkat.

“Aku selalu merindukanmu, sayang” sambungku.

“Aku juga disni merindukanmu, sayang” balasnya.

Aku mulai gelisah. Benarkah dia akan kembali? Bersabar memang tidak mudah. Apalagi ini soal hati yang semakin sepi. Menunggu itu memang tidak mudah, apalagi dipisahkan oleh jarak. Aku ingat diksi Jokpin, “Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya”.

“Apakah rindu masih tetap ada dan hidup jika ruang dan dan waktu bisa dijangkau dengan mudah lewat media sosial? Apakah itu rindu? Mungkinkah rindu adalah bagian dari misteri cinta. Kita merindukan sesuatu. Sesuatu yang misteri, tapi ada. The presence of the absurd.” Ah, aku semakin jauh melamun.

Satu jam berlalu, aku masih saja duduk termenung di kamar ini. Aku mengambil hp dan menulis pesan untuk kekasihku.

“Kucoba menarikan jari ini dalam tulisan sederhana ini. Aku termenung, entah darimanakah harus aku memulai tarian rindu tanpa iringan musik? Ahhhhh….rindu ini mulai menari Dentuman musik Rindu berkumandang. Ya..aku rindu kamu. Merindukan kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Karena sulit rasanya bertemu. Aku akui, sangat mencintai kamu. Kata cinta dan rindu, semuanya tersimpan rapi dalam hati Ahhh  rindu ini begitu menyiksa. Rindu ini terus menari, meskipun kini musiknya berhenti. Semuanya mebisu.  Kubawa rindu ini dalam doa. Aku mengadukan semua pada Tuhan, biarkan Tuhan yang mengiringi rasa Rindu dengan melodi rindu indah”.

Kami berdua mengisi carik-carik rindu lewat WA. Aku mengutip puisi karya Chairul Anwar, Cintaku Jauh di Pulau-“cintaku jauh di pulau,/ gadis manis, sekarang iseng sendiri// perahu melancar, bulan memancar,/ di leher kukalungkan oleh-ole buat si pacar./angin membantu, laut terang, tapi terasa/ aku tidak ‘kan sampai padanya.”

Aku semakin tersiksa merindukan dia. Ternyata rindu itu melukai, atau kata Dilan rindu itu berat. Namun aku yakin rindu menyembuhkan, memberikan hiburan yang menghidupkan kenangan.

 

****

Bandara Barcelona, Spayol 14 Februari 2019

Aku kembali menemui kekasihku. Dia mengiklaskan sebuah pelukan atas nama cinta. Aku belajar merelakan untuk mendapatkannya kembali. Barangsiapa melepaskan dengan ikhlas dan jujur akan meraihnya kembali dalam senyum dan sukacita istimewa. Hati kosong terisi penuh kembali dengan pertemuan. Carik-carik rindu dihiasi oleh huruf-huruf rasa yang tak berakhir.

Aku membalas pelukannya dengan santun. Kemudian aku berbisik, “Pada akhirnya kita belajar untuk saling merelakan, supaya mengerti rindu itu rupa apa, doa ini buat siapa.”


Komentar

  1. Keren sekali br...Terimakasih ya

    BalasHapus
  2. Terimaksih kk brud, sungguh ter...terr....hanyut dlam kerinduan uang sllu tak sampai😃

    Salah satu cara untuk melepas rindu ialah dengan saling bertemu. Namun, nggak selamanya kita bisa bertemu dengan orang tersayang, apalagi jika kita terpisah jarak yang jauh dari si dia😁

    BalasHapus
  3. Keren Br.... dan saya suka😇

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer